Harga Padi Anjlok di Abdya, Petani Lhok Gajah Terancam Rugi Besar

Harga gabah di Gampong Lhok Gajah, Abdya, turun di bawah ketetapan pemerintah, petani menjerit rugi dan minta pemerintah turun tangan

Petani di Gampong Lhok Gajah, Kecamatan Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), kini tengah menghadapi masa sulit. Harga padi yang menjadi sumber utama penghidupan mereka justru anjlok di bawah ketetapan pemerintah.

Padi petani di Gampong Lhoek Gajah, Kecamatan Kuala Batee, Abdya, yang baru dipotong. Foto: Ist

KUALA BATEE - Harga gabah kering panen (GKP) yang sebelumnya ditetapkan pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram, kini turun dan hanya dibeli oleh toke atau pihak swasta dengan harga bervariasi antara Rp5.800 hingga Rp6.200 per kilogram. Kondisi ini membuat para petani mengeluh karena hasil panen tak sebanding dengan biaya yang mereka keluarkan untuk pupuk, bibit, dan tenaga kerja.

Menurut keterangan salah seorang petani yang enggan menyebutkan namanya, pada Minggu (5/10/2025), harga padi yang mereka jual ke toke terus menurun sejak sepuluh hari terakhir.

“Harga padi sekarang turun, kami jual ke toke ada harga Rp6.200 per kilo, ada juga Rp5.800. Kalau begini terus, petani bisa rugi,” ujarnya.

Ia menuturkan, sebagian besar petani di desanya terpaksa menjual padi ke tengkulak karena tidak punya pilihan lain.

“Kami tidak bisa menunggu lama, karena kami harus mengeluarkan biaya-biaya potong padi dan biaya tanam selanjutnya. Jadi meski harga rendah, terpaksa dijual,” tambahnya.

Penurunan harga ini disebut-sebut akibat lemahnya penyerapan gabah oleh pihak Bulog. Para petani berharap agar pemerintah dan Bulog segera turun tangan menstabilkan harga, sesuai dengan ketetapan resmi yang sudah berlaku.

“Harapan kami, Bulog dan pemerintah segera membeli padi sesuai harga yang telah ditetapkan. Kalau tidak, kami akan terus rugi,” keluh petani lainnya.

Ia menambahkan, turunnya harga padi ini bukan hanya mengancam pendapatan petani, tetapi juga berdampak pada perekonomian masyarakat desa yang bergantung pada hasil sawah. Banyak keluarga kini mulai kesulitan menutup biaya kebutuhan sehari-hari karena hasil panen tidak mencukupi.

Tokoh masyarakat setempat turut mendesak agar pihak terkait segera mengawasi harga gabah di lapangan.

“Pemerintah harus memastikan harga sesuai dengan kebijakan. Jangan biarkan toke bermain harga seenaknya,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, para petani berharap harga padi segera kembali stabil dan pemerintah benar-benar hadir melindungi mereka dari kerugian yang terus menghantui setiap musim panen.